Ketika Cinta Harus Memilih…………
Langit hitam, mendung menggayut. Bulan mengintip malu-malu dari balik awan. Angin berhembus pelan, menggoyang dedaunan. Malam semakin larut. Seorang pemuda terpaku menatap jalan di balik jendela kamarnya. Jalanan sepi. Tak ada seorang pun yang lewat saat itu. Fikirannya melayang dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Ia teringat percakapannya dengan sang Bunda beberapa waktu yang lalu. Ia tak kuasa menolak permintaan Ibunda. Permintaan yang lebih tepat disebut tuntutan.
“Nak, kapan kamu menikah?”
Aku terhenyak dan menghentikan akivitasku, mengotak-atik laptop. Sambil lalu aku berucap, “Secepatnya, Bu”. Jawaban klise. Jawaban yang selalu aku berikan setiap ada pertanyaan serupa. Kadang aku menambahkan “Mey.. Meybi yes, meybi no….” `
“ Nak, sebenarnya apa yang kamu tunggu? Umurmu sudah cukup, penghasilanmu Insya Allah sudah mencukupi untuk berumah tangga. Ibu sudah tua, ibu ingin sebelum Ibu meninggalkan dunia ini, Ibu ingin menimang bayi. Anakmu “
Aku terdiam. Kali ini aku tak tau harus menjawab apa.
“Taruna,” Ibu memanggilku lembut dan menatapku penuh kasih sayang. Ibu melanjutkan kalimatnya. “Kamu sudah punya calon, kan? Arini? Atau Amrina? Atau ada yang lain lagi?”
Sekilas, aku membalas menatap Ibu. Lalu menundukkan wajah. Menghitung ubin yang ada di bawah kakiku. Aku menjawab, “ Aku tidak tau, Ibu. Aku belum menentukan pilihan. Mereka sama-sama baik, sama-sama manis”.
Ibu menghela nafas. “ Nak, kamu harus segera menentukan pilihan. Pilihlah salah seorang dari mereka yang terbaik. Terbaik untuk hidupmu. Siapa pun yang kamu pilih Ibu mendukungmu, Jangan lupa, bermusyawarahlah dengan Tuhanmu”
Aku menarik nafas berat. Ya, aku tidak bisa terus berdiam diri. Aku harus menentukan sikap. Menentukan pilihan. Hari terus berganti. Siang menghilang, digantikan malam. Waktu terus berjalan, tak dapat diulang kembali. Aku harus mulai menentukan masa depanku. Sesosok wajah berkelebat di benakku.
Arini, gadis yang ku kenal secara tidak sengaja melalui situs jejaring sosial dan pertemanan. Ia ramah, baik dan selalu bersikap manis. Ia bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa dengan senda guraunya. Sayang aku tidak bisa menebak isi hatinya. Ia cenderung cuek ketika aku mencoba menggodanya.
Lalu disaat aku sibuk mencari cara mencuri perhatian Arini, mbak Fajar, teman mbakku mengenalkan aku dengan Amrina. Amrina memberi warna tersendiri di hariku. Ia juga ramah, manis dan baik seperti Arini. Sekilas saja aku bisa menebak isi hatinya. Ia tipe yang serius, satu hal yang tidak dimiliki Arini. Tapi Amrina agak kekanakan, tidak seperti Arini yang bersikap dewasa.
Aku menghela nafas. Aku bingung. Aku tidak tau siapa yang terbaik. Mereka sama-sama baik. Tidak mungkin aku memilih keduanya. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Saling melengkapi. Ya Robb, Bantu aku……..
***
Detik demi detik terus berlalu. Di pertigaan malam itu, di saat semua orang terlelap, sesosok pemuda bersujud dan bersimpuh di atas sajadah. Dengan segenap jiwa, dengan penuh kerendahan hati, Ia memohon kepada yang maha kuasa agar memberinya petunjuk. Ia memohon kepada yang Maha Cinta agar ia bisa menentukan pilihan cintanya.
“Allahumma inni astkahiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka biqudrotik…….. dst1.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan (yang tepat) kepada Engkau dengan ilmu yang ada padaMu, dan aku memohon kekuasaanMu untuk menyelesaikan urusanku…dst.
Ya Allah, aku ingin cinta yang halal, di mata dunia juga akhirat…….2
Ya Robb, hamba mohon, berilah hamba petunjukMu.
Bantulah hamba, agar hamba bisa menentukan pilihan dengan tepat. Agar hamba tidak salah memilih dan hamba tidak salah melangkah.
Ya Robb, sungguh, hamba tidak ingin menyakiti siapapun. Tapi hamba tidak mungkin memilih keduanya.
Pilihkan aku yang terbaik, Ya Robb… Karena yang terbaik menurutMu pastilah yang terbaik untukku, untuk hidupku di dunia dan akhirat.
***
Bta, akhir Ramadhan 1430 H
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan NAma tokoh itu hanya kebetulan belaka
Keterangan : 1. Doa Istikharah
2. Haramkah, Melly Goeslow, soundtrack Ketika Cinta Bertasbih 2
Take me out Indonesia
Secara tidak sengaja, di Sabtu sore itu aku melihat tayangan reality show di tv swasta dengan ikon ikan terbang. Konsep acara yang dipandu Choky Sitohang ini adalah membantu seseorang dalam mencari pasangannya. Meskipun sudah ada acara serupa missal Kontak Jodoh, tapi tetap saja acara ini tampak berbeda dengan acara lain.
Di acara ini ada 30 panelis perempuan single, baik gadis maupun janda, berusia 20 – 40 tahun dengan beragam profesi. Lalu host akan memanggil kontestan seorang laki-laki lajang yang berniat mencari pasangan. Sang kontestan akan memperkenalkan diri, biasanya menyebutkan nama, usia, dan profesinya. Selanjutnya mc meminta panelis menyatakan sikap apakah berminat dengan kontestan atau tidak. Jika panelis berminat maka akan menyalakan lampu, jika tidak maka lampu akan dimatikan. Sesi selanjutnya kontestan menunjukkan kemampuannya, bisa berupa tayangan berupa kegiatan sehari-hari, atau kelebihannya missal menyanyi atau hal lain. Bisa juga mc meminta pendapat dari orang terdekat kontestan. Kemudian mc kembali meminta panelis menentukan sikap. Jika masih banyak lampu yang menyala, maka kontestan memberikan satu pertanyaan. Kemudian kontestan yang menentukan pilihan berdasarkan penilaian kontestan terhadap jawaban yang diberikan panelis. Jika kontestan tidak berminat maka ia akan mematikan lampu si panelis, jika ia berminat maka ia akan tetap membiarkan lampu podium panelis menyala. Hingga tinggal satu orang yang tersisa, untuk dipilih menjadi pasangan sang kontestan.
Dalam satu kali acara ada 7 kontestan. Tapi tidak semua kontestan mendapatkan pasangannya. Bisa saja ada kontestan yang tidak mendapatkan pasangan, karena panelis mengganggap sang kontestan kurang menarik atau bukan tipe yang dicari. Jika sudah didapat satu pasangan, maka pasangan ini akan di karantina di romantic room. Di ruangan ini dilanjutkan tahap perkenalan yang lebih intens lagi. Kemudian semua pasangan yang terbentuk nantinya akan diberikan satu tantangan dan akan dinilai oleh 100 dewan cinta. Penilaian berdasarkan kekompakan dan kerjasama pasangan. Pasangan yang mendapat nilai tertinggi itulah yang akan membawa pulang uang sebesar 5 juta rupiah.
Konsep acara ini secara keseluruhan bagus. Yang kurang dari acara ini mungkin sikap dari panelis dan kontestannya. Kontestan yang tidak mendapatkan pasangan biasanya akan mengeluarkan kata-kata yang kadang kurang mengenakkan untuk didengar. Begitu juga dengan panelis. Biasanya panelis menilai kontestan dari materi dan fisiknya. Tidak salah memang, mencari pasangan dengan materi yang memadai, yang bisa menjamin masa depan. Tapi jika materi yang menjadi patokan utama, berarti….??? (cewek matre dong… hehehe…).
Pakaian yang dikenakan sang panelis pun sepertinya kurang sopan untuk Indonesia yang katanya menjunjung tinggi adat ketimuran. Sebagian besar panelis menggunakan kemben atau gaun yang memperlihatkan sebagian dada dan lengan atasnya. Hanya beberapa orang yang menggunakan pakaian berlengan sampai siku. Ya… mungkin ini menjadi salah satu daya tarik?
Acara ini ditayangkan Jumat malam Sabtu, dan disiarkan ulang di Sabtu sorenya. Acara ini berdurasi 2,5 jam. Di acara ini juga menghadirkan seorang paranormal yang diminta pendapatnya tentang sifat dari pasangan yang terbentuk.
Melihat acara ini banyak peminatnya, maka dibuat acara serupa tapi tak sama, yang bertajuk TAKE HIM OUT INDONESIA. Kebalikan dari Take Me out, maka di acara Take Him out ini yang jadi panelis adalah laki-laki dan yang jadi kontestan perempuan. Konsep acaranya sama, mencari pasangan. Pembawa acara mengenalkan kontestan, dan panelis yang berminat menyalakan lampu, dstnya. Acara ini ditayangkan di Minggu malam Senin.
Adik lelaki yang menonton bersamaku saat itu sempat berujar, “karir mantap, mapan, fisik lumayan, masak sih mereka tidak dapat mencari sendiri pasangannya?”
Dengan sekedarnya aku menjawab, “mungkin mereka iseng, ingin cari sensasi, have fun, liat umur mereka ada yang masih 20an, mungkin mereka memang sangat sibuk sehingga tidak sempat mencari pasangannya, mungkin juga mereka malas mencari karena trauma, dst, dsb, dll”
Adik pun terdiam. Di saat yang lain ia bertanya, “bagaimana jika tinggal seorang panelis yang tersisa tapi sang kontestan tidak berminat dengannya?”
Pertanyaan si adik terjawab tak lama kemudian. Saat itu sang kontestan tidak berminat dengan panelis, maka si kontestan mematikan lampu si panelis, itu berarti si kontestan tidak memilih satu pun panelis yang ada.
Sambil lalu aku bertanya kepada adikku, “bagaimana kalau ayuk ikut acara itu?”
Adikku hanya menjawab dengan tersenyum penuh arti. Aku tau maksud senyumnya, kurang lebih maknanya seperti ini, “ayuk tidak mungkin ikut acara itu, karena ayuk tidak punya keberanian dan PD yang besar”
Yup… diperlukan keberanian, nyali dan kepercayaan diri yang sangat besar untuk ikut acara tersebut, baik sebagai panelis maupun sebagai kontestan. Karena acara ini ditonton oleh jutaan pasang mata. Bayangkan jika tidak PD, maka panelis/kontestan akan kelihatan canggung, gugup dan grogi, yang akan mengurangi nilai acara tersebut. Belum lagi jika di acara itu tidak mendapatkan pasangan…?? Duh malunya……
Aku membayangkan, alangkah lebih baik lagi, alangkah bagusnya jika ada suatu lembaga yang mau membuat acara serupa tapi dikemas dengan cara Islami, mulai dari pakaian, tutur kata sampai criteria pasangan yang sesuai dengan yang disyariatkan ajaran Nabi Muhammad Saw. Ah…. Kapan ya ada acara yang seperti itu….????
**
Palembang, 5 Agustus 2009
Doa yang terlupa
Ku sadari kini……., kesempatan itu tidak pernah datang dua kali
Aku terbuai, aku terlena dengan keadaan yang ada
Ketika ku tersadar, semuanya sudah terlambat
Telah berlalu, meninggalkan duka, menyisakan tangis
Rasa bersalah ini meruntuhkan egoku, menghancurkan kepercayaan diri
Ku sadari kini…….., kesombongan dan keangkuhan diri
Semua itu hanya semu belaka
Saat aku merasa telah memilikinya, segalanya
Harapan, impian, masa depan dan angan-angan
Namun dalam sekejap Kau merengutnya dariku
Kusadari kini………., kehilangan ini teramat dalam
Berurat berakar hingga ke sumsum tulang
Membiarkan semuanya berlalu di hadapanku
Tanpa dapat dicegah, hanya jadi penonton
Kusadari kini……….., aku lemah dan tak berdaya
Aku terdiam, terpaku, dan tak tau harus berbuat apa
Bahkan untuk menolong diri sendiri pun aku tak mampu
Hanya KuasaMu dan kasih sayangMu yang dapat menolongku
Menyelamatkan aku dari keterpurukan
Robbi….., semua terjadi atas kehendakMu
Telah tertulis di Lauh Mahfuzmu
Tak dapat disegerakan atau dilambatkan
Tak seinci pun aku bisa berpaling dariMu
Dan tak satupun perbuatan dan perkataanku yang luput dari pengawasanmu
Di ujung malam ini, di atas sajadah ini, aku bersimpuh
Mengetuk pintu langitmu, memohon belas kasihmu
Ampuni aku, ampuni kesalahanku, ampuni khilafku
Yang dengan angkuh berjalan di muka bumiMu
Beri aku kesempatan sekali lagi agar aku bisa memperbaiki diri ini
Beri aku waktu Ya Robb… sebelum semuanya benar-benar terlambat
**
Palembang, menyambut Ramadhan 2009
9,1% Remaja di Sumsel Pernah Melakukan Seks Bebas
Harian umum Seputar Indonesia, Senin, 27 Juli 2009, memuat berita ini. Berdasarkan hasil penelitian LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2005 menunjukkan 9.1% remaja SMP dan SMA di Sumsel sudah pernah melakukan hubungan seks. Dari penelitian ini 85% melakukan hubungan seks pada usia 13-15%. Data ini diungkapkan oleh Rina Nursanti (praktisi kesehatan Unsri) pada seminar seks pranikah pada remaja di Graha Bina Praja Pemprov Sumsel, Minggu 26 Juli yang lalu. Data ini diyakini terus meningkat mengingat kemajuan teknologi dan liberilisme yang terus meningkat.
Berdasarkan hasil penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) tahun 2008 menunjukkan 62,7% remaja SMP dan SMA pernah melakukan seks sebelum nikah. 93.7% remaja sudah melakukan ciuman, stimulasi genital dan oral seks. Lalu 97% remaja sudah pernah nonton film porno. 25% remaja sudah melakukan aborsi karena hamil di luar nikah. Data ini dipastikan akan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Innalillahi…. Aku bergidik membaca berita itu. Benarkah data itu? Validkah ? Siapa yang dijadikan sampelnya? Sederet pertanyaan lain ada dibenakku. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tak dapat dipungkiri, perubahan zaman yang sangat pesat dituding menjadi salahsatu penyebabnya. Arus informasi dan komunikasi yang sangat cepat dan sangat mudah diakses, belum lagi factor lingkungan dan pergaulan yang semakin bebas. Dan hal ini diperparah dengan sikap orangtua dan anggota keluarga lain yang sibuk dengan dunianya sehingga lupa dengan si anak yang beranjak remaja yang tengah mencari jatidirinya.
Lalu aku semakin mengurut dada ketika membaca berita yang hampir setiap hari dimuat di Koran-koran. Polisi mengerebek rumah kos-kosan, karena penghuninya berbuat mesum. Polisi mengamankan anak-anak yang bermain judi koin. Polisi mencokok pengedar dan pemakai ganja, sabu-sabu, putaw, dll, dsb, dst. Allah…. Begitu parahkah akhlak remaja itu? Apa jadinya bangsa ini jika generasi penerusnya seperti ini?
Seks bebas tentu saja menimbulkan dampak yang tidak baik, seperti ketagihan, prilaku seks menyimpang, dikucilkan teman, stress, apatis, tidak peka terhadap lingkungan, rentan terhadap penyakit kelamin, syphilis, herpes, jamur, HIV/AIDS, dll.
Saya bukan ahli dibidang kesehatan, bukan ahli hukum, bukan pula psikolog. Tapi Saya mempunyai sedikit kepedulian pada anak-anak itu. Saya bukan berasal dari keluarga ustad, saya juga bukan lulusan pesantren. Saya hanyalah orang awam, tapi orangtua saya menanamkan agama sejak dini. Bapak selalu mengajak kami untuk sholat jamaah, minimal sholat magrib. Bapak akan sangat marah jika kami belum pulang ketika magrib tiba apalagi kami tidak memberitahukan kemana kami pergi. Bapak akan bersikap sangat demonstrative ketika teman lelaki yang berkunjung ke rumah belum pulang ketika sudah pukul 9.00 malam. Ketika kami akil baligh maka Bapak meminta kami menutup aurat, minimal ketika kami keluar rumah. Saat kami meneruskan pendidikan keluar kota, kuliah dan harus indekos maka Bapak-Ibu memberi wejangan agar kami bisa menjaga diri, menjaga nama baik keluarga, menjaga pergaulan, dan tentu saja menjaga sholat. Terkadang kami merasa sikap Bapak sangat keras, tegas dengan aturannya. Tapi orangtua kami selalu meluangkan waktunya mendengarkan cerita kami. Ketika kami masih di rumah, Saat makan malam kami menceritakan kejadian yang kami alami pada hari itu. Saling bertukar pikiran. Bapak dan juga Ibu memberi saran, memberi masukan kepada kami. Usai makan baru kami melanjutkan aktivitas kami.
Dunia memang sudah berubah. Tantangan yang dihadapi semakin berat. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya. Sekolah-sekolah unggulan berbasis keagamaan tumbuh bak jamur di musim hujan, kebanjiran peminat. Orangtua berlomba menitipkan anaknya pada sekolah tersebut. Tapi hal ini belumlah cukup. Bagaimana anak akan sholat, bagaimana anak akan mengaji, bagaimana anak akan menutup auratnya, menjaga pergaulannya sementara orangtuanya tidak memberikan contoh yang baik? Ketika Magrib tiba, kadang orangtua tidak tahu dimana keberadaan anaknya. Saya semakin miris ketika mendengar ada anak yang tidak boleh menggunakan jilbab karena dilarang orangtuanya. Menurut orangtuanya jilbab itu ketinggalan jaman, nanti sulit dapat kerja, dll.
Lihatlah di sekitar kita, di jalan, di mall, remaja-remaji itu tanpa malu-malu bergandengan tangan, berangkulan. Naudzubillah… dianggap aneh, ketinggalan zaman bila seorang remaja tidak memiliki pacar. Lalu ketika pergaulan mereka sudah diluar batas, baru orangtua mereka kelabakan. Sungguh ironi ketika hamil diluar nikah dianggap tidak aneh lagi.
Sudah seharusnya kita bertindak. Meminimalisir prilaku seks bebas dikalangan remaja. Memang tidak mungkin menjaga mereka 24 jam. Tapi kita bisa meluangkan waktu untuk mereka, mengajak mereka bertukar pikiran, mendengarkan keluhan mereka, menjadikan mereka teman bukan musuh, memberi contoh dan teladan kepada mereka. Mendorong mereka agar memanfaatkan waktu luangnya dengan hal positif, membaca, mengikuti ekskul misalnya. Kalau bukan kita yang menjaga mereka, lalu siapa lagi? Bukankah Allah memerintahkan kita agar menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka? Maka mari kita jaga keluarga kita, menjaga remaja bangsa kita, generasi penerus kita dari hal-hal negative yang bisa merusak masa depan mereka, masa depan kita semua.
**
Palembang, 28 Juli 2009
Jangan Menyerah (suatu tinjauan persepekti lagu D’Masiv)
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik
Tuhan pastikan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa
Jangan menyerah….., jangan menyerah….
**
Lagu ini diciptakan Ryan, vocalis d’Masiv. Lagu ini dilihami ketika para personel d’masiv tampil di hadapan anak-anak penderita kanker. Dengan segala keterbatasan yang ada anak-anak itu tetap ceria. Mereka mempunyai semangat untuk hidup sehat, meskipun dokter sudah memvonis umur mereka yang tidak panjang karena penyakit mematikan itu.
Lagu ini menjadi titk balik bagi d’masiv. Ditengah isu yang menimpa mereka bahwa lagu-lagu yang ada di album pertama mereka adalah lagu jiplakan, mereka berusaha membuktikan bahwa mereka bisa menciptakan lagu yang bagus. Meskipun lagu ini bukan lagu religi, tapi makna yang terkandung dalam lirik lagu ini sangat dalam, sangat religius.
Lagu ini mengajak kita para pendengarnya agar selalu mensyukuri apa yang ada. Jangan menyerah pada keadaan, apapun yang terjadi itulah yang terbaik untuk kita, meskipun itu sakit, sedih, duka menggenggam jiwa. Semua berjalan atas kehendaknya. Allah maha melihat, Allah tidak tidur, Allah maha tahu, Allah akan membimbing dan memberi petunjuknya pada hamba yang dihendakinya. Allah akan menunjukkan kebesaranNya, KuasaNya. Maka bersabarlah, bertawakallah, jangan putus asa dari rahmat Allah, jangan menyerah……………
**
Palembang, Juli 2009, (Menyemangati diri sendiri, jangan menyerah, akan ada senyum setelah duka, akan ada mentari setelah gelap, akan ada pelangi setelah hujan, badai pasti berlalu…..)
Ketika Liburan Usai…..
Kamis, 16 Juli 2009, kehidupan di Sekolah Islam Terpadu Alfurqon mulai berdenyut kembali. Hari itu adalah hari pertama guru dan karyawan beraktivitas, setelah libur panjang selama 15 hari kerja. Walaupun kegiatan belajar mengajar (KBM) baru akan dimulai tanggal 21 Juli, guru dan karyawan diwajibkan datang beberapa hari sebelum KBM. Seperti biasa sebelum KBM dimulai, akan diadakan rapat koordinasi dan pembagian tugas untuk satu tahun ke depan. Dan seperti biasa pula setelah lama tidak berjumpa maka ada acara kangen-kangenan, berupa salam-salaman, cipika-cipiki, bertukar cerita hingga bertukar oleh-oleh (maksudnya mencicipi oleh-oleh yang dibawa sebagian teman).
Tapi ada yang tidak biasa pada hari itu. Malam sebelumnya kami mendapat sms agar esok hari kami menggunakan seragam batik kuning. Aku bertanya dalam hati, kenapa harus memakai seragam, padahal siswa kan belum masuk ? Pertanyaan ini langsung terjawab, hari itu akan diadakan serah terima jabatan (sertijab) dari kepala sekolah yang lama kepada sekolah yang baru. Sertijab ini baru pertama kali dilakukan.
Sertijab berlangsung sederhana, lancar dan hikmat. Acara ini tidak mengundang fihak lain selain intern. Tapi entah kenapa aku merasa selama sertijab berlangsung suasananya tegang, kaku, dingin dan sangat formal. Saat aku bertanya ke guru lain usai acara, mereka pun merasakan hal yang sama. Di acara ini juga dibacakan sekilas peraturan – peraturan baru yang wajib ditaati oleh semua elemen yang ada. Acara ditutup dengan doa dan foto bersama.
Usai sertijab, dilanjutkan dengan rapat koordinasi di setiap tingkatan di lokasi yang berbeda. Saat rapat suasana agak mencair, apalagi saat dibacakan tugas dan kewajiban setiap guru. Beragam ekspresi terpancar dari wajah guru. Ada yang kaget, surprise, senang, bahagia, dan ada juga yang biasa saja. Ada yang komplain, tapi palu sudah diketuk, keputusan tidak dapat diganggu gugat lagi.
Begitulah hidup. Dalam satu keputusan yang diambil, maka akan ada pro dan kontra. Ada yang puas ada yang tidak. Ada yang senang, ada tidak, dan seterusnya. Apa pun itu semoga semua dapat berjalan dengan lancar, lebih baik dari tahun sebelumnya. Tidak ada gesekan, tidak ada kendala yang dapat menghambat proses KBM.
Satu – dua siswa lama dan siswa baru muncul di sekolah. Menyelesaikan administrasi, mengambil buku dan mengambil seragam. Mereka ditemani orangtua atau walinya. Dengan takzim dan malu – malu mereka menyapa dan menyalami kami, gurunya. Sekilas tampak perubahan mereka. Secara fisik mereka berubah, ada yang bertambah tinggi dan ada yang pertumbuhannya ke samping. Semoga perubahan fisik yang semakin baik ini juga diikuti perubahan lainnya. Sikap, tingkah laku, emosi, spiritual dan lainnya, semoga semakin baik sesuai dengan usia yang semakin bertambah.
Lalu apa kabar siswa yang telah menyelesaikan pendidikan dasarnya, dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ? Sekolah ini telah dua kali meluluskan siswanya. Satu – dua dari mereka tetap menjalin komunikasi dengan beberapa guru. Melalui media internet, baik friendster maupun facebook, mereka menyapaku, bertanya kabar, menyatakan apakah aku masih mengingat mereka, dan menyatakan kerinduan mereka terhadap aku dan guru lainnya, rindu terhadap sekolahnya. Aku membalas sapa mereka, kami para guru akan selalu mengingat mereka dan mendoakan agar mereka menjadi anak soleh-solehah. Jika mereka kangen aku menganjurkan agar mereka datang ke sekolah. Tak lupa aku menanyakan bagaimana kegiatan mereka di SMP.
Anak-anak itu…. Mereka mulai beranjak dewasa. Mulai memasuki dunia remaja yang penuh gejolak. Semoga mereka dapat menjadi anak-anak terbaik di mana pun mereka berada. Semoga mereka selalu menjaga pergaulan dan tetap menutup aurat seperti yang selama ini kami ajarkan.
Saat aku menulis di facebook “Tahun ajaran baru, kepsek baru, peraturan baru, partner baru, seragam baru, siswa baru, semangat baru….????? Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.” Komentar berdatangan dari teman-teman, intinya mereka mengaminkan doa dan harapanku. Ya….. semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya………………………….amiiiiiiiiiiin.
***
Palembang, 17 Juli 2009
***
Selasa, 21 Juli 2009, hari pertama masuk sekolah, semua berjalan normal, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya perlu adaptasi antara guru dan murid baru. Dan dengan kerjasama antar civitas sekolah dengan walimurid, maka semoga proses KBM 1 tahun ke depan berjalan lancar dan lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Amiiin….
Perhentian terakhir
Jauh sudah aku berjalan, mengarungi gelombang kehidupan
Telah lelah kaki melangkah,
Entah kapan kan terhenti, entah di mana kan berakhir
Jalan yang ku lalui terjal berliku, penuh onak dan duri
Kadang mendaki, kadang terhempas di tepi
Melangkah sendiri, tanpa teman di sisi
Allah, tuntun langkahku, agar aku menemukan arah yang benar
Agar aku tak tersesat dalam arus zaman
Allah, bimbing diri ini, menemukan jati diri
Agar aku segera menemukan perhentian terakhirku
Tempatku bersandar atas letih yang ku alami
Hanya Engkau yang tau pasti dimana perhentian terakhir itu…
Itsaar versus MC
Menyusuri lorong kehidupan, menapaki jejak langkah yang tertinggal
Apakah hikmah semua ini ?
Allah, benarkah langkahku selama ini ?
Apakah yang sudah aku lakukan ini tercatat sebagai amal baik, atau malah sebaliknya?
Allah, Engkaulah yang maha tahu, bimbing langkahku agar selalu dalam jalanMu
Membaca novel Ketika Cinta Bertasbih (Habiburrahman Elshirozy) dan menonton filmya membuatku berfikir dan merenung. Begitu banyak pelajaran yang ku dapat yang selalu membuatku bertanya-tanya, Allah benarkah tindakanku selama ini?
Satu hal yang menganggu fikiranku adalah itsaar. Aku baru tahu istilah ini. Benarkah itsaar (mendahalukan orang lain) dalam hal ibadah adalah makruh? Menikah adalah ibadah, lalu jika aku mendahalukan orang lain untuk menikah itu makruh ? Wallahualam.
Alhamdulillah (tanpa bermaksud menyombongkan diri) dua kali aku bertindak sebagai mc (mak comblang). Dan Alhamdulillah aku sukses.
Tahun 2006, teman kuliahku menelpon meminta dengan sangat agar aku bersedia mencarikan orang yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya. Awalnya aku menolak, karena aku sendiri belum menikah. Selain itu aku takut apa yang aku pilihkan ternyata tidak berkenan dihatinya. Karena sang teman terus-terusan mendesakku, maka mau tidak mau aku memenuhi permintaannya. Akhirnya aku menghubungi rekan kerjaku. Padanya aku mengajukan pertanyaan apakah ia siap untuk menikah, apakah ia sudah punya calon, apa kriterianya dll. Maka jadilah aku sebagai mc. Aku bertindak sebagai kurir, tukang pos sekaligus sebagai penasehat/konsultan bagi mereka. Setelah proses taaruf yang lumayan alot dan memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka menikah.
Setelah mereka menikah, kufikir mereka akan membalas kebaikanku (hihi.. ngarep ni yee..). Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sang teman jika bertemu dijalan, jangankan bertegur sapa, tersenyum pun tidak. Terpaksa aku menarik kembali sudut-sutut bibir yang sudah membentuk senyum. Ironis bukan? Kita berusaha berbuat baik, berusaha menebar senyum, sapa dan salam, ternyata yang kudapat malah wajah yang ditekuk dan acuh. Teman yang lain sempat berkomentar, “dia kan teman kuliahmu, kok tidak menegurmu sih?” Aku hanya mengangkat bahu.
Oktober 2008, sepupuku berkunjung ke rumah, menceritakan masalahnya, lalu memintaku agar aku bersedia mencarikan orang yang tepat untuk dijadikan istri, pendamping hidupnya. Aku prihatin mendengar ceritanya, aku berniat membantunya. Lalu aku mengenalkannya dengan teman baikku. Teman kerja yang sudah kuanggap saudara. Teman semakan-seminum, teman sepenanggungan. Sama seperti sebelumnya, aku bertindak sebagai mc yang baik. Mendengarkan keluh kesah mereka dan memberikan saran dan nasehat jika diminta. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya mereka menikah di awal Juni ini.
Komentar pun berdatangan, baik dari teman-teman maupun dari keluargaku. Ada yang mengucapkan selamat karena berhasil jadi mc, ada yang menyatakan salut atas usahaku, tapi tidak sedikit yang berkomentar miring.
“Hati-hati, nanti sibuk menjodohkan orang, kamu sendiri tidak ketemu jodohmu”
Atau komentar yang lain, “kok bisa mencarikan jodoh untuk orang lain, mencari jodoh diri sendiri kok tidak bisa ?”
Allah, perih hati ini mendengar komentar itu. Aku tidak mengharapkan balasan apapun dan dari siapapun, selain ridhoMu. Aku tulus membantu mereka. Tapi kenapa aku mendapat komentar yang aneh-aneh?
Masalahnya tidak hanya berhenti di situ. Setelah selesai cuti nikah, dan masuk kerja lagi sang teman berkata bahwa aku bukan teman dan saudara yang baik. Allah, apalagi ini? Apa maksudnya ? Aku tidak tau apa ucapan itu serius atau gurauan, tapi seingatku kalimat itu sudah beberapa kali terucap. Kalimat yang membuatku selalu berfikir, benarkah aku seperti yang dituduhkan itu ? Kenapa ada tuduhan seperti itu? Aku tersudut, aku terluka.
Allah jika apa yang dituduhkan kepadaku itu benar, maka ampuni dosa, khilaf dan salahku. Sungguh, tak pernah terniat sedikit pun dihatiku untuk menyakiti orang lain. Allah jika apa yang dituduhkan itu tidak benar, maka ampuni dosa, khilaf dan salah kami. Jadikan ini pelajaran bagi kami agar kami bisa menjaga lisan. Tanpa sadar ucapan kami menyakiti hati orang lain. Allah, berikan aku hati seluas samudera, agar aku bisa menerima apa yang terjadi ini dengan hati yang ikhlas, hati yang lapang. Selalu bersabar, dan memaafkan semua kesalahan orang lain juga kesalahan diri sendiri.
Dan aku hanya bisa menekan dadaku, saat dia bercerita dengan wajah berseri-seri, mata yang berbinar – binar. Ia menceritakan kebaikan – kebaikan suaminya. Jika ia bahagia dengan pernikahannya, kenapa ia menuduh aku bukan teman dan saudara yang baik?. Bukankah aku yang mengenalkannya dengan suaminya? Inikah balasan yang aku terima? Wallahualam.
Aku terpukul, aku tak berdaya. Kenapa mereka memusuhiku, apa salahku? Kenapa masalah ini datang bertubi-tubi? Apa ini ujian, cobaan, teguran, atau ini azab bagiku? Wallahualam.
Lalu adakah hubungan antara kisah ini dengan itsar? Wallahuallam. Dulu aku pernah mendengar bahwa jika kita berhasil menjodohkan seseorang, maka Allah akan membalasnya dengan surga. Akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Katanya ini hadist, tapi aku tidak tahu kesoheannya. Aku tidak tahu mana yang benar. Aku juga tidak tahu apakah tindakanku sebagai mc ini dicatat Allah sebagai amal kebajikan, atau justru sebaliknya.
Allah, ternyata ikhlas dan sabar itu sangat susah diterapkan. Yang aku tahu, yang bisa aku ambil hikmah dari semua ini adalah seharusnya aku tak berharap kepada manusia. Kepada siapa pun. Karena hanya kecewa, sedih dan sakit hati yang kudapat ketika aku berharap pada mereka. Seharusnya Aku hanya berharap pada-Nya. Allah yang menciptakanku, yang menggengam kehidupanku. Allah yang telah menuliskan suratan takdirku, guratan nasibku. Allah telah menuliskan skenarionya, dan aku hanya melakoni apa yang telah digariskannya. Dan satu lagi yang kutau, aku tidak boleh berkeluh kesah kepada siapapun. Karena suatu saat akan menjadi boomerang bagiku. Aku hanya boleh berkeluh kesah pada-Nya. Allah tempatku mengadu, Allah yang tidak akan mengecewakan hambanya.
Allah ampuni dosaku, ampuni kesalahan dan khilafku
Engkau yang maha kuasa, maha berkehendak, maha mengetahui
Engkau tidak tidur, Engkau maha menatap, maha mendengar
Engkau tidak akan menyia-yiakan permohonan hamba-hambamu
Allah kabulkan doa yang terlantun, jangan tinggalkan aku dalam keputusasaan
Bimbing langkahku agar selalu dalam jalanMu yang lurus.
Allah, Tuntun jalanku, Agar aku menemukan cinta itu.
***
Palembang, Kamis, 18 Juni 2009.
Orang – orang tersayang, orang – orang malang
Dalam perjalanan Palembang – Bandung, saat sebagian besar penumpang, saya berbincang dengan teman yang kini bertugas sebagai hakim di PTA tanah kelahiranku. Saat itu saya bertanya tentang pengalamannya selama menjadi hakim. Dia bilang, sekarang ini semakin banyak kasus perceraian yang terjadi. Semakin hari semakin banyak yang melaporkan kekisruhan rumah tangganya.
Penyebab perceraian pun bermacam-macam, mulai dari selingkuh, hadirnya orang ketiga, harta/penghasilan, hingga kekerasan (KDRT). Lamanya proses sidang cerai itu tergantung dari kasus yang ada dan tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak. Jika kedua belah fihak menginginkan perceraian maka proses sidang akan berlangsug cepat. Jika hanya salah satu yang menginginkan cerai yang lain tidak, maka prosesnya akan berlangsung lama.
Biasanya di persidangan akan terjadi perang urat syaraf. Semua kata-kata kasar, caci maki akan keluar dari mulut kedua belah fihak. Tak ada lagi kata manis, kasih sayang, maupun cinta kasih. Yang ada hanya amarah dan kebencian.
Aku tercenung mendengar cerita temanku. Pernikahan, sejatinya adalah menyatukan kedua insan dan keluarga besarnya untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Apa jadinya jika tak ada lagi cinta dalam keluarga itu? Benarkah perceraian merupakan satu – satunya jalan dalam menyelesaikan masalah? Aku tak tahu.
Perceraian adalah perbuatan yang diperbolehkan agama walaupun sebenarnya perbuatan yang sangat dibenci Allah. Perceraian apapun penyebabnya pasti menyisakan luka dan trauma. Dan korbannya adalah anak-anak. Mereka sering menjadi rebutan ayah -ibunya. Tak jarang mereka juga mengalami kekerasan fisik dan mental. Anak yang seharusnya mendapat perlindungan, dididik dengan penuh kasih sayang, tapi ternyata mereka harus menghadapi masalah yang berat. Anak yang seharusnya bisa hidup normal, sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Tapi dalam usia semuda itu mereka harus menyaksikan pertengkaran, pertikaian kedua orangtuanya. Mereka kehilangan harapan, kehilangan masa kanak-kanak mereka. Tak jarang mereka juga kehilangan masa depannya. Sungguh ironi.
KDRT bisa dialami siapa saja. Pelaku dan korbannya bisa siapa saja, tak kenal kasta. Tak peduli pejabat pemerintah, artis/penyanyi ataupun orang biasa. Coba lihatlah media kita. Hampir setiap hari media massa (cetak maupun elektronik) menyajikan berita KDRT. Seorang penyanyi ditabrak suaminya sendiri, seorang penegak hukum menganiaya istri dan anaknya. Seorang istri memotong alat vital suaminya. Di Bandung seorang ayah membakar hidup – hidup anak dan istrinya di dalam mobil, hanya karena sang ayah stress bisnisnya gulung tikar. Di Makasar seorang balita tewas ditangan ayahnya hanya karena sang ayah tidak tahan mendengar tangis sang anak.
Sementara di Madiun seorang anak berumur 4 tahun, bernama Tegar, kehilangan kaki kanannya karena sang ayah cemburu dan tidak mau diceraikan oleh sang ibu. Sang ayah menidurkan anaknya di rel kereta api dan membiarkan sang anak tertabrak kereta api. Setelah kejadian itu, sang ayah melarikan diri dan hingga kini belum berhasil ditemukan. Allah, dimana hati nurani sang ayah? Kemana perginya cinta, kasih sayang itu? Haruskah kembali jatuh korban karena masalah rumah tangga, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin?
Allah, aku berlindung kepadamu. Semoga tak ada lagi Tegar – tegar yang harus mengalami hal seperti ini.
***
Baturaja, 14 Juli 2009
Sang Driver
Suksesnya suatu perjalanan, baik melalui darat, laut maupun udara, pasti tak terlepas dari si pengemudi kendaraan tersebut. Apapun julukan mereka, pilot, nakhoda, masinis, sopir, mereka harus bertanggunjawab pada keselamatan para penumpang dan barang bawaannya. Jika mereka lengah sedikit saja, maka bisa dipastikan akan terjadi bencana. Lihatlah betapa banyak kecelakaan yang disebabkan human error, karena sopir mengantuk misalnya. Tapi sayangnya, penghargaan terhadap mereka masih dirasa kurang. Kita sering melupakan jasa-jasa mereka. Tak jarang mereka hanya dipandang sebelah mata.
Perjalanan selama 1 minggu ke Bandung – Jogja, memberiku pengalaman berarti. Mencoba memahami kehidupan mereka. Kami berangkat menggunakan travel agency, 1 orang guide, 2 orang supir dan 1 orang navigator. Awalnya kami segan untuk berbincang dan beramah-tamah dengan mereka. Mungkin karena hampir seluruh rombongan kami berjenis kelamin perempuan. Mungkin juga karena mereka yang terkesan jaim, dan pendiam. Tapi ketika kami berbincang dengan mereka kesan itu hilang.
Saat itu di areal parkir Abu Bakar Ali, Jogja, sambil menunggu rombongan yang sibuk berbelanja di Malioboro, aku dan seorang teman berbincang-bincang dengan Kang Boim dan Kang Dadang, sang driver. Mereka asli orang Sunda. Keluarga mereka ada di Bandung. Kami bertanya suka dan duka mereka selama menjadi driver, juga hal lain.
“Bunda, jangan mencari orang yang setia, ” kata Kang Boim.
“Kenapa?” Tanya temanku.
“Iya, setia kan artinya setiap tikungan ada,” ujarku.
“Bukan, setia itu selingkuh tiada akhir,” kata Kang Boim.
“Huu, sama aja Kang,” sahutku hampir bersamaan dengan temanku.
Lalu kami bertanya tentang anggapan bahwa sopir itu biasanya mempunyai lebih dari 1 isteri. Tentu saja mereka membantah anggapan itu.
“Tidak semua sopir seperti itu, Bunda,” kata Kang Boim. “Apalagi sopir travel, mana sempat untuk mencari isteri baru. Lihatlah, kami selalu ikut kemana rombongan pergi, ya kan,” terangnya.
Kang Dadang hanya mengiyakan.
Kang Boim melanjutkan ceritanya, “hanya karena ulah beberapa oknum sopir yang mempunyai isteri lebih dari satu, maka semua sopir di cap seperti itu,” keluhnya.
Lalu meluncurlah kisah Kang Boim, bagaimana usahanya menepis anggapan buruk tentang seorang sopir. Bagaimana caranya ia meyakinkan calon mertua untuk menerimanya sebagai menentu. Berusaha meluluhkan hati sang mertua, hingga merestui untuk menikahi putrinya. Kini Kang Boim sudah menikah dan dikaruniai seorang putri berumur 1,5 tahun. Kang Boim juga menceritakan bagaimana rindunya ia pada si buah hati. Profesinya sebagai sopir travel antar propinsi menyebabkan ia sering tidak berada di rumah. Melewatkan masa pertumbuhan anaknya. Untungnya sekarang zaman sudah canggih, jadi komunikasi bisa terus terjaga melalui telpon. Memang selama perjalanan itu Kang Boim dan Kang Dadang selalu berkomunikasi dengan keluarganya.
Mudah-mudahan masih banyak sopir yang seperti Kang Dadang dan Kang Boim, yang sayang dan peduli dengan keluarganya. Menjaga keutuhan rumah tangga mereka, tanpa membaginya dengan yang lain, walaupun jarak dan waktu memisahkan ia dan keluarganya.
***
Baturaja, 13 Juli 2009
-
Terkini
- Ketika Cinta Harus Memilih…………
- Take me out Indonesia
- Doa yang terlupa
- 9,1% Remaja di Sumsel Pernah Melakukan Seks Bebas
- Jangan Menyerah (suatu tinjauan persepekti lagu D’Masiv)
- Ketika Liburan Usai…..
- Perhentian terakhir
- Itsaar versus MC
- Orang – orang tersayang, orang – orang malang
- Sang Driver
- Sebuah Pengabdian (Berkunjung ke Kraton Jogja)
- Catatan Perjalanan : Tur D’Java (Jakarta – Bandung – Jakarta)
-
Taut
-
Arsip
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (9)
- Juni 2009 (6)
- April 2009 (6)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (1)
- Desember 2008 (3)
- November 2008 (2)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS